Dia
Dia yang selalu hantui pikiranku,
dia yang selalu menggenang di benakku,
dia yang selalu melintas dalam pikiranku.
Dia selalu hadir saat aku memikirkannya,
dia selalu datang saat aku terpulas mimpi
dalam tidurku.
Ketika semua berlalu, dia datang lagi,
dan lagi, dan lagi,
bersama angan anganku yang begitu tinggi
berkhayal tentang Dia.
Kini diri ini serasa terbenam dalam senja
yang begitu kelam dengan samaran bayangan Dia.
Rasa ini sungguh aku tak mengerti,
dalam kesadaran aku berada dalam ruang hampa
yang begitu kosong, semua hanya semu,
dan semua hanya bayangan ilusi.
Dan kini aku tak tahu
apa yg harus aku lakukan,
walau terdengar bodoh di telinga
tapi itu lah hal tergila yg pernah ada
hanya antusias dan ambisi
menemani egoku saja,
yang ingin memiliki Dia.
Suatu saat nanti mungkin dia baru akan menyadari,
dan suatu saat nanti dia juga baru akan mengerti
betapa gilanya rasa ini.
Aku harus tetep tersenyum
meski ini menyakitkan
Aku harus tetap menelan
meski rasa itu begitu pahit.
Namun pada akhirnya
aku harus tetap mengikuti kata hati dan naluri
yang akan membawaku pada sebuah kepercayaan,
yang akan menjadi moment berkesan di setiap tindakan.
Menjadi lebih berharga dan lebih bermakna dalam mencintai Dia.

Komentar
Posting Komentar